Sijunjungpost, Wasington —Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kritik keras terhadap beberapa negara sekutu yang secara resmi mengakui kedaulatan Palestina.
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu di gedung putih pada Senin, 29 September 2025. Ia menilai langkah tersebut sebagai tindakan yang tidak bijak meskipun dilakukan oleh negara-negara sahabat.
Menurut Trump, keputusan itu kemungkinan besar diambil karena kelelahan terhadap konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Negara seperti Perancis, Inggris, Kanada, dan Australia termasuk di antara pihak yang memberikan pengakuan resmi terhadap Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB pekan sebelumnya.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengumumkan rencana perdamaian berisi 20 poin yang bertujuan mengakhiri konflik Israel Hamas di Gaza.
Rencana itu mencangkup pelucutan senjata Hamas, pertukaran sandra Israel dengan tahanan Palestina, serta pembentukan pemerintahan transisi di wilayah Gaza.
Netanyahu menyatakan dukungannya terhadap sikap tegas Washington, terutama terkait penolakan keterlibatan otoritas Palestina dalam masa depan Gaza.
Ia juga menegaskan bahwa Israel akan menyelesaikan operasinya jika Hamas menolak kesepakatan tersebut.
Sementara itu, negara-negara Eropa berpendapat bahwa pengakuan Palestina merupakan langkah penting untuk menegaskan kembali solusi dua negara dan mendorong proses perdamaian.
Konflik di Gaza telah menewaskan lebih dari 66.000 warga Palestina sejak Oktober 2023 dan menyebabkan hampir seluruh populasi mengungsi. Namun Netanyahu memperingatkan bahwa pengakuan semacam itu justru dapat memicu Hamas untuk meningkatkan serangan terhadap warga Israel.
Pemerintah Inggris menegaskan bahwa Hamas tidak akan memiliki peran dalam masa depan Palestina. Sedangkan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut pengakuan tersebut sebagai kekalahan bagi kelompok itu serta bagi pihak-pihak yang menyebarkan kebencian terhadap Yahudi. (SP-01)












