Washington, sijunjungpost —Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali membuat keputusan mengejutkan. Pada Kamis, 30 Oktober 2025, ia mengumumkan di platform Trud Social bahwa Amerika Serikat akan memulai kembali uji coba senjata nuklir untuk pertama kalinya dalam lebih dari 3 dekade.
Trump mengatakan keputusan ini diambil karena negara lain seperti China dan Rusia juga terus mengembangkan senjata nuklirnya.
Langkah ini sontak memunculkan pertanyaan besar. Apakah dunia akan kembali memasuki perlombaan senjata baru seperti masa perang dingin dulu?
Trum mengeklaim bahwa China sedang membangun persediaan nuklirnya dengan cepat. Menurut data dari Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, China kini memiliki sekitar 410 hulu ledak nuklir meningkat dari 350 tahun sebelumnya.
Namun, Amerika Serikat sendiri masih jauh lebih unggul dengan lebih dari 3.700 hulu ledak aktif.
Sedangkan Rusia bahkan lebih banyak lagi mencapai 5.400 hulu ledak.
Artinya klaim bahwa China bisa menyaingi kekuatan nuklir AS dalam 5 tahun masih dipertanyakan.
Tapi langkah Trump jelas menunjukkan kekhawatiran terhadap meningkatnya kekuatan militer Beijing dan Moswa. Keputusan Trump muncul beberapa hari setelah Rusia mengumumkan keberhasilan uji coba rudal bertenaga nuklir baru bernama Buresnik.
Rudal itu diklaim bisa menempuh jarak sangat jauh dan menembus sistem pertahanan Amerika. Bukan hanya itu, Putin juga memamerkan drone bawah laut bertenaga nuklir bernama Poseidon yang bisa membawa hulu ledak nuklir dan menyelam hingga kedalaman ekstrem.
Dengan kata lain, Rusia sedang menunjukkan giginya dan Trump tak ingin AS terlihat tertinggal. Inilah alasan mengapa langkah ini dianggap bukan sekadar kebijakan militer, tapi juga pesan politik untuk saingan globalnya.
Banyak pihak menilai kebijakan ini sangat beresiko.
Pakar nuklir dari Carnegi Endowment for International Peace, Jamie Guong memperingatkan bahwa langkah AS bisa memicu efek domino. Jika AS benar-benar menguji, maka Rusia dan China bisa ikut melakukan hal yang sama dan dunia kembali terjebak dalam perlombaan senjata nuklir tiga arah.
Sementara itu, China menyerukan agar AS menghormati perjanjian larangan uji coba nuklir komprehensif yang memang telah ditandatangani meski belum diratifikasi oleh kedua negara.
Artinya secara hukum AS tidak melanggar perjanjian internasional, tapi secara moral langkah ini dianggap menantang semangat perdamaian global.
[Musik] Untuk memahami betapa besar dampaknya, kita perlu menengok ke belakang. Amerika Serikat pertama kali menguji bom atom pada Juli 1945 di gurun, New Mexico. Tak lama kemudian menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan ratusan ribu orang.
Sejak saat itu, AS telah melakukan lebih dari 1000 uji coba nuklir hingga tahun 1992.
Sebelum akhirnya menghentikan seluruh tes setelah menandatangani CTBT, perjanjian pelarangan uji coba nuklir global. Namun, Trump kini membuka kembali pintu yang selama 33 tahun tertutup. Jika benar-benar dilakukan maka ini akan menjadi uji coba nuklir pertama AS sejak akhir perang dingin.
Para analis memperingatkan bahwa dunia saat ini berada di momen yang sangat berbahaya. Perang di Ukraina, ketegangan di Taiwan, hingga konflik antara Israel dan Iran semuanya melibatkan negara-negara dengan kemampuan nuklir atau ambisi memilikinya.
Seperti dikatakan oleh pakar kebijakan internasional Risk Reley, jika perlombaan senjata nuklir baru belum dimulai, maka kita sedang berada tepat di garis start. Selain resiko politik, uji coba nuklir juga berpotensi mencemari lingkungan dan air tanah bahkan jika dilakukan di bawah tanah.
Artinya, bukan hanya ancaman perang yang meningkat, tapi juga resiko terhadap keselamatan manusia dan alam.
Langkah Trump jelas merupakan pesan keras bahwa AS siap mempertahankan dominasinya dengan segala cara. Namun di lain sisi, dunia kini dihadapkan pada ketakutan lama yang dulu sempat reda, yaitu bayang-bayang perang nuklir. (SP–01)












